Minggu, 25 Desember 2011

high school story

Saya ingat dulu saya sering duduk di tepi lapangan pada hari tertentu untuk meliat seseorang yang sedang berolahraga. Saya duduk bersama teman-teman saya, dengan alibi membeli makanan di jam istirahat. Padahal kenyataan nya mata saya selalu mencari-cari keberadaan dia di lapangan. Yaaah, jam olahraga kelas dia memang menabrak jam istirahat. Hal itu pun menjadikan saya sering mengajak teman-teman saya mencari jajanan di sekitar lapangan olahraga pada hari itu.

Saat itu saya tidak tahu. Saya tidak tahu apakah saya telah jatuh cinta pada dia, atau saya hanya merasa bersalah. Sebuah perasaan bersalah yang hanya ingin semua nya kembali seperti dulu pada saat kami masih berteman baik.

Miris memang ceritanya. Setelah ketegangan terjadi pada saat kami di awal-awal masuk Sekolah Menengah Atas, kami tidak saling bertegur sapa hampir sepanjang masa kami bersekolah disitu. Entah karena kebodohan saya atau faktor luar yang menjadikan kami berdua bodoh. Tapi faktanya adalah masalah yang ada di antara kami tersebut cukup sukses menghancurkan pertemanan kami di saat kami baru saja saling mengenal.  

Tak ada habis nya saya mengutuk diri sendiri atas semua yang terjadi. Saya hanya menunggu semua dengan penuh harap. Saya pun menunggu. Hingga tak terasa seminggu berlalu, sebulan belalu, hingga setahun berlalu. Saya pun tetap menunggu setidaknya dia lupa akan segala masalah yang terjadi. Tapi tidak ada tanda-tanda rasanya semua akan kembali seperti awal. Bahkan saat itu saya merasa kami tidak akan pernah lagi berbaikan.

Nilai-nilai saya pun ikut menjadi korban atas semua yang terjadi. Soundtrack hidup saya pun menjadi lagu-lagu dari final fantasy yang saya bahkan tidak tau judul nya apa.

Hingga akhirnya di lebaran terakhir kami di sekolah itu. Saya mendapatkan momentum untuk meminta maaf pada nya. Saya meminta maaf atas kejadian dua tahun yang lalu. Ringan rasanya. Lidah tidak sekaku yang saya kira sebelum nya, namun kata-kata yang keluar dari saya cukup datar. Entah. Ternyata saya sudah lupa rasanya.

Sejak saat itu, canda dan obrolan mulai mewarnai lagi di akhir-akhir kami akan meninggalkan sekolah itu. Saya memang mendapat ending yang baik pada saat itu. Pertemanan kami pun menjadi baik lagi. Cukup baik minimal dari yang saya bayangkan.

Banyak pelajaran yang bisa saya ambil dari masalah tersebut. Yang sungguh saya bertekad tidak akan  mengulangi nya di bangku kuliah. Because, I don't wanna loose my best friend anymore.     

Kehilangan teman adalah hal terburuk dalam hidup. Dan saya tidak mau mengalami nya lagi. Namun sejak itu saya menjadi tau bahwa mencintai sahabat sendiri itu terkadang salah.